Beranda / Berita Terbaru / Di balik Citra Jakarta Sebagai Kota Modern Dengan Deretan Gedung Pencakar Langit dan Kemacetan

Di balik Citra Jakarta Sebagai Kota Modern Dengan Deretan Gedung Pencakar Langit dan Kemacetan

Jakarta, Suarapagi. My. Id– Di balik citra Jakarta sebagai kota modern dengan deretan gedung pencakar langit dan kemacetan yang nyaris tak pernah usai, masih terdapat kampung padat penduduk yang bertahan di bantaran sungai. Salah satunya berada di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tepat di sepanjang Kali Krukut.

Kampung ini kerap disebut sebagai “riverside” dalam makna sesungguhnya, karena rumah-rumah warga berdiri persis di tepi kali yang relatif dangkal. Akses menuju perkampungan dimulai dari Jalan Lontar Raya, tak jauh dari Kantor Lurah Kebon Melati, melalui gang sempit yang hanya bisa dilalui satu orang.

Wilayah yang ditelusuri masuk dalam RW 09, dengan Kali Krukut menjadi batas alami dengan RW 07. Saat penelusuran, petugas Pasukan Biru Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta terlihat membersihkan sampah yang terbawa arus sungai.

Meski diguyur hujan dan gerimis, aktivitas warga tetap berlangsung normal. Sejumlah warga terlihat mencuci, memasak, menjemur pakaian, hingga bercengkerama di teras rumah. Namun, kondisi gang yang sempit, licin, dan minim pagar pembatas membuat kawasan ini memiliki risiko tinggi, terutama terjatuh ke sungai.

Panjang gang kampung sekitar 500 meter dan bermuara langsung ke Pasar Blok B Tanah Abang. Dari dalam kampung, gedung-gedung tinggi Jakarta tampak menjulang, menghadirkan ironi kontras antara modernitas kota dan realitas permukiman padat yang masih membutuhkan penataan.

Afifah, warga RW 09, telah tinggal di kampung ini sejak 1997. Ia mengaku memiliki keinginan untuk pindah, namun masih menunggu masa jabatan ayahnya sebagai Ketua RT yang berakhir pada 2029. Sementara itu, Tasrifah justru memilih bertahan karena faktor ekonomi. Ia menetap sejak 2014 karena biaya kontrakan yang murah, bahkan kini telah membeli rumah yang sebelumnya dikontrak.

Kisah kampung bantaran Kali Krukut menjadi potret nyata wajah Jakarta: kota megapolitan yang terus tumbuh, namun masih menyisakan pekerjaan rumah dalam menata permukiman warganya agar lebih layak dan manusiawi. (Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *