Beranda / Internasional, / Konflik Iran-AS Memanas, Ancaman Gangguan Selat Hormuz Bikin Pasokan Minyak ke Asia Makin Ketat

Konflik Iran-AS Memanas, Ancaman Gangguan Selat Hormuz Bikin Pasokan Minyak ke Asia Makin Ketat

Jakarta –Suarapagi.my.id – Memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang pasar energi dunia. Ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan akan mengganggu pasokan minyak mentah ke negara-negara Asia, sekaligus mempertahankan harga minyak dunia pada level tinggi.

Sebelumnya, kilang-kilang minyak di Asia diproyeksikan meningkatkan produksi bahan bakar pada Agustus 2026 untuk memenuhi permintaan global. Namun, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mengubah proyeksi tersebut setelah muncul gangguan terhadap arus ekspor minyak dari Teluk Persia.

Situasi semakin rumit menyusul ancaman kelompok Houthi di Yaman yang akan memblokade pengiriman minyak Arab Saudi melalui Laut Merah. Akibatnya, sejumlah kapal tanker memilih jalur pelayaran alternatif yang lebih panjang, sehingga waktu pengiriman minyak ke China, India, dan negara-negara Asia lainnya diperkirakan mundur hingga beberapa pekan.

Keterlambatan pasokan tersebut membuat sejumlah kilang di Asia menghadapi ketidakpastian jadwal kedatangan minyak mentah. Di sisi lain, kapasitas kilang di Amerika Serikat dan Eropa telah mendekati batas maksimal sehingga sulit menutupi kekurangan pasokan dari Timur Tengah.

Tekanan terhadap pasar energi juga diperparah oleh masih berlanjutnya pembatasan ekspor diesel Rusia akibat serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak di negara tersebut. Kondisi ini mempersempit pasokan produk minyak dunia, termasuk solar, bensin, dan bahan bakar pesawat.

Analis Sparta Commodities, Neil Crosby, menilai dunia saat ini belum memiliki kapasitas pengolahan yang memadai untuk mengimbangi gangguan pasokan dari Selat Hormuz dan pembatasan ekspor Rusia secara bersamaan. Menurutnya, harga energi kemungkinan masih akan bertahan tinggi karena pasokan global belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Data terbaru menunjukkan margin keuntungan pengolahan solar dan bahan bakar pesawat di Asia melonjak hingga lebih dari US$ 65 per barel, jauh di atas kisaran US$ 20 per barel sebelum konflik kembali memanas.

Kondisi tersebut diperkirakan akan terus menjadi perhatian pelaku industri energi dan pemerintah berbagai negara, mengingat Asia merupakan kawasan dengan konsumsi minyak terbesar di dunia dan sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.(Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *