JAKARTA — Suarapagi.my.id – Presiden Prabowo Subianto menetapkan target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW) dalam empat tahun. Khusus tahun 2026, pemerintah membidik pembangunan PLTS mencapai 30 GW.
Target tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi bersih.
Prabowo menyampaikan target tersebut saat menghadiri peluncuran motor listrik nasional di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).
“Kita juga akan membangun listrik dari tenaga surya sebesar 100 gigawatt. Ini harus kita laksanakan dalam 4 tahun. Namun, tahun ini saja target kita adalah 30 gigawatt,” ujar Prabowo.

Selain mempercepat pembangunan PLTS, Prabowo juga meminta PT PLN (Persero) segera mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar diesel.
Ia menyebut terdapat pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan kapasitas sekitar 13 GW yang harus segera ditinggalkan.
“PLN harus tinggalkan pembangkit listrik dari diesel kurang lebih 13 gigawatt. Harus segera kita tinggalkan,” tegasnya.
Dorong Kendaraan Listrik
Menurut Prabowo, transisi energi di sektor ketenagalistrikan harus berjalan beriringan dengan percepatan penggunaan kendaraan listrik.
Pemerintah mendorong pemanfaatan kendaraan listrik tidak hanya pada sepeda motor dan mobil, tetapi juga bus hingga traktor.
Prabowo menilai penggunaan listrik sebagai sumber energi utama dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Ia menyebut impor BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar US$28 miliar hingga US$30 miliar per tahun.
“Dengan motor dan mobil listrik, dengan bus listrik, dengan traktor listrik, dengan sebanyak mungkin alat-alat kita menggunakan listrik sebagai energi utama kita, kita akan lebih aman, kita akan lebih sejahtera,” katanya.
Butuh Investasi Besar
Sementara itu, Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai keberhasilan program PLTS 100 GW tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kapasitas pembangkit yang terpasang.
Program tersebut juga harus mampu memperkuat ketahanan energi, mendorong industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja hijau, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
IESR memperkirakan implementasi PLTS 100 GW membutuhkan investasi kumulatif sekitar US$51 miliar hingga US$78 miliar selama lima tahun.
Penggantian pembangkit diesel dengan energi surya juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi. Langkah tersebut diperkirakan dapat menghemat sekitar Rp17,2 triliun sekaligus menurunkan emisi hingga 24,3 juta ton CO₂ ekuivalen.
Namun, sejumlah tantangan perlu dipersiapkan, antara lain kesiapan sistem ketenagalistrikan, sumber daya manusia, rantai pasok industri, keberlanjutan pembiayaan, serta kualitas proyek.
Pembangunan Dilakukan Bertahap
Pemerintah melalui Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan program PLTS 100 GW akan dimulai secara bertahap dengan pembangunan pembangkit berkapasitas 17 GW yang didukung fasilitas battery energy storage system (BESS) sekitar 33 GW.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyebut seremoni perdana proyek energi hijau berskala besar tersebut akan digelar di Bali.
Dengan target 30 GW PLTS pada 2026, pemerintah menempatkan energi surya sebagai salah satu fondasi utama untuk mencapai sasaran 100 GW dalam empat tahun, sekaligus mempercepat transformasi sistem energi nasional menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.(Red)






